Minggu, 19 Desember 2010

PENGARUH ZAKAT PADA PRIBADI DAN MASYARAKAT

Zakat adalah merupakan pilar Islam yang dengannya bangunan Islam dapat tegak dengan kokoh. Oleh karena itu, ketika Abu Bakar Shiddiq ra.menjadi khalifah, beliau dengan tegas menindak orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat sepeninggal Rasulullah Saw. Beliau mengatakan : “Demi Allah, saya betul-betul akan memerangi siapa pun yang membeda-bedakan antara shalat dan zakat. Karena zakat merupakan kewajiban dalam hal harta. Demi Allah, seandainya mereka tidak mau lagi memberikan seekor kambing yang dulunya mereka tunaikan kepada Nabi Saw, maka saya pasti akan memeranginya. Mendengar penjelasan Khalifah Abu Bakar Shiddiq yang sangat tegas itu, Umar bin Khaththab ra berkata : Demi Allah, hati Abu Bakar betul-betul telah dibimbing Allah untuk perang tersebut, dan saya yakin ia benar. (Diriwayatkan oleh seluruh ahli hadits selain Ibnu Majah).
Sebagaimana semua hal yang disyariatkan, zakat mempunyai banyak kebaikan dan hikmah jika dilaksanakan dalam kehidupan, baik untuk pribadi muzakki (orang yang berzakat), untuk pribadi mustahiq (orang yang menerima bagian zakat) dan juga bagi masyarakat secara luas.
Pengaruh Zakat pada Muzakki
Orang yang menunaikan zakat akan mendapatkan kebaikan dengan zakatnya, bukan hanya berupa pahala di sisi Allah SWT. tetapi hikmah dan pengaruh positif yang dirasakan di dunia, di antaranya :
1. Memberishkan jiwa dari sifat kikir dan terlalu mencintai dunia
Rasulullah Saw.bersabda :”Tiga hal yang dapat merusak keimanan (dan kemanusiaan) : Kikir yang diperturutkan, hawa nafsu yang diikuti dan memandang hebat diri sendiri” (HR.Thabrani)
Di hadits lain Nabi Saw.menjelaskan :”Harta seorang hamba (pada hakikatnya) tidak berkurang karena shadaqah/zakat” (HR.Tirmidzi).
2. Menumbuhkan kepedulian
Harta yang dimiliki, meski betul-betul merupakan hasil kerja dengan mengerahkan kemampuan, namun pada dasarnya adalah merupakan karunia Allah SWT. Sebab betapa banyak orang yang bekerja keras siang dan malam, tetapi untuk menutupi kebutuhan pokoknya saja sulit. Oleh karena itu Allah menetapkan bahwa di dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain, sebagaimana firman-Nya : “dan orangh-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (Al-Ma’arij/70:24,25)

3. Wujud kesyukuran kepada Allah SWT.
Harta dan kekayaan, baik dari hasil usaha sendiri secara langsung, maupun mungkin dari warisan yang ditinggalkan orang tua, sebenarnya rejeki dari Allah SWT.yang patut untuk disyukuri. Mensyukuri nikmat Allah, bukan saja dengan mengucapkan Alhamdulillah, tetapi menggunakannya sesuai dengan tuntunan pemberinya. Syeikh Ahmad Mushthafa Al-Maraghi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan pengertian syukur, yaitu :”mendayagunakan segala pemberian dan karunia Allah sesuai dengan kehendak-Nya”.
4. Menghilangkan sisi negatif dari harta
Barang-barang dan penghasilan yang kita miliki, bisa jadi memuat hal-hal yang tidak baik. Umpamanya ketika kita mempunyai kebun, bisa saja muncul fitnah dan sengketa dari hasilnya. Zakat membawa hikmah menghilangkan keburukan dari hartaa tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw. :”Apabila engkau telah mengeluarkan zakat hartamu, maka sesungguhnya engkau telah menghilangkan keburukannya” (HR. Ibnu Khuzaimah dan hakim)
Pengaruh Zakat Bagi Pribadi Mustahiq
Mustahiq (orang yang menerima bagian zakat) tentu merasakan betul manfaat zakat dalam kehidupannya, di antaranya :
1. Mengatasi kebutuhan
Kenyataan adanya stratifikasi sosial, di mana ada orang-orang yang berkecukupan dan juga ada kelompok masyarakat yang penuh dengan keterbatasan, bahkan untuk mencukupi kebutuhan pokok saja terasa amat sulit. Padahal kebahagiaan yang didambakan setiap orang itu, menurut Nabi Saw.:”Ada empat tanda kebahagiaan bagi manusia :Isteri yang shalihah, rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang bagus”. (HR.Ibnu Hibban). Dalam kenyataannya, jangankan kebahagiaan, tidak sedikit dari kaum Muslimin yang sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok (hawaij ashliyah), yaitu sandang (pakaian), pangan (makanan pokok) dan papan (tempat tinggal yang memenuhi standard dasar dan minimal). Zakat dapat menjadi sarana untuk mengatasi kebutuhan dasar tersebut.
2. Menghilangkan rasa benci dan dengki
Islam tidak mengenal pertentangan kelas antara borjois dan proletar, antara mustakbirin dan mustadh’afin. Kenyataan adanya orang kaya dan orang miskin bukan untuk diadu domba dan dipertentangkan, sehingga memunculkan kebencian antara satu kelompok dengan yang lain. Tetapi Islam mengarahkan ummatnya untuk menyikapi sesuatu secara realistis (waqi’iyah). Yang digariskan Islam adalah bagaimana agar orang yang ditaqdirkan kaya, mensyukuri kekayaan yang merupakan karunia Allah SWT. dan bagi yang kebetulan miskin, sabar atas apa yang ada dengan tetap berusaha untuk mendapatkan rejeki yang halal. Zakat menjadi jembatan di antara keduanya. Tidak menjadikan muzakki sombong dengan kekayaan dan zakatnya, dan mustahiq merasa terhina karena menerima pemberian dari orang kaya. Perasaan makan budi dan terhilangkan kebebasannya tidak perlu ada di kaum kaum dhuafa.
3. Menumbuhkan rasa simpati
Kepedulian orang kaya yang berzakat tidak boleh menjadikan penerima zakat terhina, sebagaimana yang menunaikan zakat tidak boleh merasa lebih baik dan hebat karena bisa memeberi, tetapi dengan semangat kesadaran yang baik justeru yang muncul adalah simpati dan saling menghargai. Rasulullah aw.bersabda :”Secara otomatis hati akan tertarik untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat jahat kepadanya” (HR. Ibnu Adi).

Pengaruh Zakat bagi Kehidupan Sosial
Zakat dilaksanakan bisa secara individual, artinya seseorang menyalurkan zakatnya sendiri secara langsung diberikan kepada mustahiq, seperti faqir miskin, dan bisa juga secara kolektif melalui kepanitian atau yang lebih tepat melalui lembaga zakat semisal Lembaga Amil Zakat (LAZ) Peduli Ummat Waspada. Ketika penyaluran zakat dilakukan secara kelembagaan tentu akan memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat, di antaranya :
1. Munculnya rasa tanggung jawab sosial
Ketika zakat dikoordinasikan dengan baik pengumpulan dan penyalurannya, maka akan dirasakan suasana tanggung jawab kolektif. Misalnya pada saat terjadinya gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias beberapa tahun yang lalu, kaum Muslimin banyak yang menyalurkan zakat, infaq dan shadaqahnya melalui lembaga-lembaga zakat yang mempunyai program kerja yang rapi dari sejak tanggap darurat, rehabilitasi sampai rekonstruksi. Tentu untuk merealisasikan rencana kerja tersebut ada komunikasi dua arah antara lembaga zakat dengan para muzakki dengan mempubikasikan perkembangan pendayagunaan zakat. Maka dengan demikian ada rasa tanggung jawab bersama dalam mengatasi permasalahan ummat.
2. Menggerakkan ekonomi
Zakat yang biasa dikeluarkan di bulan ramadhan umpamanya, diterima oleh mustahiq terutama faqir miskin untuk keperluan lebaran, seperti makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya. Maka dengan demikian zakat ikut berperan menggerakkan roda-roda ekonomi, termasuk di daerah yang dinilai minus.
3. Meningkatkan wibawa ummat
Dalam kenyataannya kondisi kaum Muslimin di berbagai belahan bumi, seperti di Palestina masih sangat memprihatinkan. Jika lembaga-lembaga zakat di berbagai Negara Islam mengalokasikan sebagian hasil pengumpulannya untuk membantu perjuangan Kaum Muslimin di Palestina dan membebaskan Masjid Al-Aqsha dari cengkeraman Yahudi Israel, maka pihak di luar Islam akan segan dan tidak berbuat seenaknya terhadap kaum Muslimin, terutama Palestina.
Begitu juga upaya penyelamatan aqidah ummat, tidak bisa dipungkiri bahwa berkembanganya gerakan pemurtadan didukung oleh dana yang tidak sedikit. Maka perjuangan untuk menyelamatkan aqidah ummat juga tentu memerlukan dana yang tidak sedikit, di antaranya dengan memanfaatkan hasil pengumpulan zakat.
4. Keamanan negara
Masyarakat yang taat zakat sebagai manifestasi keimanan, tentu hikmahnya akan memunculkan suasana imani yang indah dan keberkahan dari Allah SWT. Firman-Nya :”Dan jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami bukakan kepada mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi … (Al-A’raf/7 : 96).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar